Jakarta – Rumah kedua

Posted on Updated on

Kenangan tentang the good old days hidup di Jakarta selalu mendapat tempat istimewa di hati saya. Saya bukan orang asli Jakarta, tidak dibesarkan di kota ini oleh orang tua saya dan Jakarta juga bukan merupakan kota tujuan saya untuk mudik menjelang lebaran. Hanya saja di kota yang identik dengan kesan glamour; kekuasaan; bisnis; mall; sibuk; banjir; pusat hiburan; macet; atau apa saja lah…you name it, saya bertumbuh dan “besar” hingga saya selalu merasa pulang saat menjejakkan kaki di tanahnya.

Dsc04857

Jakarta adalah tempat saya mendapat banyak hal untuk membentuk diri. Di Jakarta lah saya mulai berdiri sendiri mengejar mimpi dan tidak lagi bergantung kepada orang tua. Kerja keras, komitmen, disiplin, dan persahabatan adalah sebagian nilai yang kuat tertanam di dalam diri saya selama hidup di Jakarta. Mau tidak mau untuk bisa survive di kehidupan penuh persaingan di Jakarta, saya harus kerja keras, memegang komitmen dan berdisiplin. Kalau tidak bisa disiplin bangun jam 4 pagi, saya pasti akan semakin menderita dengan kemacetan yang menggila pada jam-jam sibuk pagi hari untuk bisa sampai ke kantor. Kalau saya tidak mau bekerja keras dan komit pada tugas, entah berapa klien yang akan dengan mudahnya berpaling ke perusahaan yang orang-orangnya lebih mau berusaha memberikan hasil kerja yang memuaskan mereka. Sedangkan dari sisi persahabatan, ternyata selain merupakan gudang orang-orang pintar yang ambisius, Jakarta merupakan gudang orang-orang berhati seperti malaikat, seperti teman-teman saya. Walaupun rata-rata pertemanan kami diawali dalam konteks hubungan pekerjaan, namun kami berhasil membangun hubungan personal yang menyenangkan tanpa merusak profesionalisme kami sebagai pekerja. Sementara, circle persahabatan lain yang berhasil saya tembus membawa saya semakin memahami makna bersyukur karena mereka membukakan mata saya betapa indah dunia ini dan kita bisa menikmatinya dengan travelling. Menurut saya, ada banyak orang baik di Jakarta sehingga saya merasa nyaman saat berada disana. Ketika saya sedang ingin menyendiri tanpa teman, Jakarta punya banyak fasilitas yang bisa mengakomodirnya. Saya tidak merasa canggung dan aneh bila saya hanya duduk-duduk di suatu tempat, sendirian. Merupakan hal yang lumrah saat saya dan orang-orang lain menyendiri, bahkan di pusat keramaian. Sepertinya orang-orang punya urusannya masing-masing hingga tidak ada waktu untuk memperhatikan orang lain. Positif atau negatif, tergantung kacamata kita melihatnya. Yang pasti, banyak hal yang bisa dilakukan di Jakarta, entah sendirian atau beramai-ramai, entah serius atau santai, yang semuanya punya keasyikan tersendiri.

Walau selama 12 tahun saya lebih banyak menghabiskan waktu di hari Senin sampai Jumat selama lebih dari 11 jam untuk urusan pekerjaan (itu belum dihitung waktu yang habis di jalan selama jam pergi dan pulang kantor) namun saya masih bisa menikmati Jakarta dan segala daya tariknya di akhir pekan. Saya mungkin tidak akan menyangka bahwa museum ternyata bukan merupakan tempat yang membosankan kalau saja saya tidak bertemu dengan teman-teman pencinta sejarah yang gemar merawat museum sebagai aset bersejarah di Jakarta. Atau mungkin wawasan saya tidak lebih terbuka mengenai tempat-tempat indah di dunia bila saya tidak berkenalan dengan komunitas travel yang saya temui di Jakarta. Jakarta juga merupakan titik awal saya bisa bepergian ke tempat-tempat yang waktu kecil rasanya jauh dari kota kelahiran saya di Salatiga.

Saat jauh dari Jakarta seperti sekarang ini, saat Jakarta harus ditempuh dalam waktu empat jam penerbangan dari Kupang (tempat tinggal saya saat ini), di benak saya Jakarta begitu indah dengan segala komponen didalamnya. Rasanya saya akan bisa berdamai dengan kemacetan yang tiap hari saya temui baik pagi, siang, maupun malam. Sepertinya saya juga masih bisa berkompromi dengan segala macam urusan tenggat waktu yang sering bikin saya sakit kepala. Tampaknya saya juga tidak banyak komplain saat merasakan imbas banjir yang langganan menyambangi kota ini. Kalau jauh memang segalanya tampak lebih indah dan mudah diterima, walau saya yakin pada saat saya menghadapinya lagi sebagai rutinitas, pasti ada sebagian sisi diri saya yang tidak terima dan tetap saja berkomentar negatif mengenai kondisi demikian. Bagi saya Jakarta adalah rumah kedua saya, meski ada duka namun lebih banyak senang disana. Bila akan pulang ke Jakarta, saya menjadi kembali seperti anak kecil yang akan diajak pergi ke taman bermain oleh orang tuanya. Dua malam berturut-turut sebelum pergi, saya pasti akan sulit tidur nyenyak karena terlalu senang dan antusias membayangkan siapa yang akan saya temui dan apa yang akan saya lakukan nanti di Jakarta. Mengemas pakaian di koper menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bangun dini hari untuk bersiap terbang dengan pesawat pertama saya jalani tanpa mengeluh. Transit di Bali / Surabaya saya anggap sebagai jalan-jalan melemaskan kaki yang capek karena sudah duduk sekitar dua jam. Sesampai di Jakarta ketika harus antri taksi serta menghadapi kemacetan di sepanjang tol bandara dan tol dalam kota pun saya justru merasa senang karena bisa sembari melihat-lihat gedung dan bangunan baru yang selalu ada di kota ini. Sambil menikmati kemacetan biasanya saya juga langsung membuat janji untuk bertemu dengan teman-teman. Tentu saja kami harus meluangkan waktu yang lama karena banyak cerita yang kurang seru bila hanya disampaikan lewat telepon atau skype. Belum bertemu mereka saja saya sudah senang, apalagi bila sampai di rumah kakak selalu ada keponakan-keponakan kecil yang dengan polos dan antusias mereka berlari memeluk saya saat masuk rumah sembari berteriak “Welcome home, tante!”, rasanya terbayar sudah rasa pegal selama di atas pesawat.

“Bila hati merasa senang, langkah kakimu terasa ringan, ada pintu persahabatan dan kekeluargaan yang siap terbuka untuk menyambutmu, disanalah kamu bisa pulang.” (arintacerita)

Jkt2

Advertisements

One thought on “Jakarta – Rumah kedua

    […] Arinta H Judul: Jakarta – Rumah Kedua Twitter: […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s