Latest Event Updates

Nasionalisme Setelah 17an (Khusus Bagi yang Suka Jalan-jalan)

Posted on Updated on

Setiap jelang bulan Agustus, getaran nasionalisme nyata terasa sekali di tanah air tercinta ini. Dimana-mana mudah ditemui umbul-umbul dan bendera merah putih sebagai simbol nasionalisme. Berbagai macam perlombaan unik digelar, hingga para diaspora yang berada di belahan dunia lain turut bersukacita merayakan kemerdekaan. Bagi kita yang suka jalan-jalan, 17an biasanya jadi momen istimewa untuk melakukan perjalanan (mendaki, touring, diving, napak tilas sejarah) ke suatu destinasi dengan misi tertentu, tidak lupa mengibarkan bendera merah putih saat misi terlaksanakan sebagai tanda selebrasi. Seru yah? Namun setelah 17an berakhir, apakah nasionalisme itu masih berkobar, atau jangan-jangan melempem?

Lalu apa saja sih yang bisa kita lakukan sebagai bentuk nasionalisme bagi kita pecinta jalan-jalan khususnya saat menjelajah negeri tercinta?

1. Peduli lingkungan
Adakah teman-teman yang ikhlas memungut sampah orang lain yang ditinggal di gunung, bukit, atau pantai? Atau malah terkadang suka lupa meninggalkan sampah di destinasi wisata terutama di tempat yang minim fasilitas tempat sampah? Hayo ngaku! Menurut saya, menjaga kebersihan adalah salah satu bentuk nasionalisme yang sederhana namun masih sulit untuk dilakukan. Buktinya masih banyak pendaki yang meningggalkan sampah di tempat mereka istirahat, vandalisme di bebatuan air terjun maupun gua, atau sampah di laut yang kita temui saat snorkeling / diving. Katanya bangga dengan keindahan negeri ini, kenapa masih tega untuk menodainya?

Jangan kotori gua secantik ini dengan sampah dan vandalisme
Jangan kotori gua secantik ini dengan sampah dan vandalisme (Gua Kristal, Kupang NTT) – arinta

2. Menghormati dan mempromosikan budaya lokal

Kebudayaan lokal yang sangat beragam di negeri kita ini adalah aset dan warisan yang berharga bagi kemajuan pariwisata. Biasakan saat berkunjung ke suatu tempat, kita berinteraksi dengan warga lokalnya. Selain menambah saudara, kita juga bisa lebih menghormati kebudayaan mereka. Jangan lupa untuk membeli kerajinan lokal yang dibuat oleh penduduk sebagai mata pencaharian mereka. Kita juga patut berbangga mengenakan batik, songket,tenun ataupun produk lokal lainnya. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, kita pun dapat berperan sebagai duta bangsa dengan sharing di media sosial mengenai informasi kegiatan dan kebudayaan lokal dengan tagar yang mudah ditemukan oleh orang-orang di seluruh dunia. Bayangkan saja, bila ribuan suku yang memiliki budaya yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri ini dikenal dunia, betapa negeri kita akan semakin dihormati oleh bangsa lain.

Bercengkerama dengan mama-mama di Kampung Bena, Flores yang bercerita mengenai filosofi kain tenun mereka
Bercengkerama dengan mama-mama di Kampung Bena, Flores yang bercerita mengenai filosofi kain tenun mereka – arinta

3. Menggemari kuliner khas daerah
Tahu kan kalau ada ungkapan cinta bisa datang dari perut lalu ke hati? Kekayaan kuliner bangsa kita sudah diakui dunia, buktinya rendang merupakan makanan paling enak di dunia versi CNN. Tambo cie! Selain rendang tentunya masih banyak kuliner khas daerah yang tak diragukan lagi kelezatannya, sebut saja ayam tangkap dari Aceh, pempek dari Sumatera, Sup Konro dari Sulawesi, Gudeg dari Jogja, Ayam Taliwang dari Lombok, Daging Se’i dari NTT, hingga Papeda dari Papua dan Ambon. Yum! Saat kita jalan-jalan, sempatkan untuk menikmati kuliner daerah yang nikmat, yakin deh pasti akan semakin cinta dan bangga dengan Indonesia. Teman-teman yang sedang tinggal jauh di luar negeri pasti paham sekali bagaimana rasanya kangen dengan makanan yang cita rasanya Indonesia banget. Iya kaaan?

kuliner lokal Mataram, NTB
kuliner lokal Mataram, NTB – arinta

4. Sesekali lakukan wisata sejarah
Jalan-jalan memang banyak dilakukan sebagai kegiatan rekreasional untuk melepaskan penat dari rutinitas, sehingga terkadang kita cenderung memilih perjalanan yang “tanpa mengharuskan kita belajar’, apalagi bagi sebagian orang topik sejarah itu membosankan. Eh tapi jangan salah lho, sekarang ini banyak wisata sejarah yang sudah dikelola secara menarik dan apik. Coba saja datang ke kawasan kota lama Jakarta, disana banyak atraksi yang menarik untuk lebih memahami sejarah. Atau bila kita ingin lebih merasakan aura perjuangan kemerdekaan sang proklamator dan sekalian menikmati keindahan alam pantai dan gunung, kita bisa lho melakukan napak tilas Bung Karno di Flores. Mulai dari mengunjungi rumah pengasingan beliau selama 4 tahun di jalan Perwira kota Ende hingga ikut meresapi perjuangan beliau di bawah pohon sukun yang saat ini menjadi monumen Soekarno, disanalah beliau melakukan perenungan mengenai cikal bakal ideologi bangsa kita, Pancasila. Tidak jauh dari rumah pengasingan maupun monumen, kita bisa menikmati pantai dan gunung yang memang mengelilingi kota Ende. Masih kurang puas? Jangan lupa, Bung Karno juga pernah menuliskan naskah toneel (pertunjukan teater) yang berjudul “Rahasia Kelimutu” disamping 11 naskah lainnya yang lahir selama di pengasingan. Rahasia Kelimutu mengisahkan keindahan lansekap gunung dan danau 3 warna bernama Kelimutu yang sarat dengan kisah tahayul yang masih dipercayai oleh masyarakat lokal. Mau membuktikan keindahannya sendiri? Jangan lupa untuk bangun pagi-pagi sekali agar tidak kehilangan momen matahari terbit di gunung Kelimutu ini. Jadi, selain kita lebih tahu sejarah kita juga tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati eksotisme keindahan alam Flores.

Monumen Soekarno dan pohon sukun di kota Ende - arinta
Monumen Soekarno dan pohon sukun di kota Ende – arinta

5. Jalan-jalan ke pedalaman Indonesia yang jarang tersentuh dan terekspos

Jalan-jalan daerah pedalaman atau terpencil di Indonesia dapat menorehkan sisi nasionalisme yang cukup mendalam. Kearifan lokal yang ada di daerah terpencil tidak jarang justru membuat alamnya terjaga, tidak rusak sehingga kita bisa lebih puas menikmati keelokan alam yang masih perawan. Namun di sisi lain, kehidupan warganya yang penuh dengan keterbatasan baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan niscaya mengusik sisi nasionalisme kita untuk berperan mensejahterakan dan memajukan pendidikan bangsa. Tak perlu muluk-muluk, hanya berinteraksi dan membagi sedikit ilmu yang kita punya, akan besar maknanya untuk saudara kita di pedalaman.

Anak-anak di Maumere. Mereka senang lho bila kita berinteraksi dan berbagi ilmu dengan mereka.
Anak-anak di Maumere. Mereka senang lho bila kita berinteraksi dan berbagi ilmu dengan mereka – arinta

6. Bangga menjadi orang Indonesia
Yang terakhir, kita tidak mungkin memiliki jiwa nasionalisme kalau kita sendiri tidak bersyukur dan bangga menjadi orang Indonesia. Kalau kita selalu skeptis, sinis, dan pesimis dengan kondisi bangsa kita, bagaimana bangsa ini bisa maju? Coba saja saat jalan-jalan ke luar negeri atau bertemu orang asing, kita justru menjelek-jelekkan bangsa sendiri, hilang sudah kesempatan menjadi bangsa baik yang dikenal dunia. Memang bangsa kita masih banyak kekurangannya, contohnya di sektor pariwisata banyak destinasi yang belum dikelola dengan baik, begitu dikelola dan dikenal banyak orang justru alamnya jadi rusak. Inilah tugas kita, mengedukasi diri sendiri dan orang-orang disekitar kita untuk menjaga alam saat jalan-jalan. Bila alam terjaga, banyak mendapat pujian dari dunia, semakin bangga juga kan kita?

Anak-anak di desa Moni Kelimutu bangga dooong menjadi anak Indonesia
Anak-anak di desa Moni Kelimutu ini bangga dooong menjadi anak Indonesia – arinta

‘Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia” #wego17an

Melepas Rindu dengan Ayam Tangkap

Posted on Updated on

Banda Aceh untuk kedua kali ini bukan merupakan tujuan utama perjalanan saya, hanya mampir dan sekedar melepas rindu makan ayam tangkap yang menurut saya rasanya fenomenal. Bagaimana tidak, di atas piring tidak tampak jelas rupa si ayam, hanya tumpukan dedaunan dan herba yang renyah, perlu sedikit usaha untuk menemukan si ayam. Saat disandingkan dengan nasi putih hangat, ayam yang sudah berhasil ditangkap dari tumpukan dedaunan ini membuat saya bahagia hahaha…lebay ya..ya sudah ngga apa-apa, sekali kali. Bila hati sudah senang, perut sudah kenyang, apa lagi yang kurang? Jalan-jalan! Sebelum menuju Lhok Seumawe, saya menyempatkan diri untuk singgah ke Museum Tsunami dan kapal PLTD Apung. Dulu saat saya datang ke Aceh memang tidak sempat singgah ke museum ini, tapi lagi-lagi memang sedang bukan rejeki saya. Siang itu museum sedang dipakai untuk acara jobfair sehingga pengunjung tidak bisa masuk ke dalam, hanya bisa berkeliling di luar area museum saja. Tak apa, lain kali saya bakal balik lagi, Sabang ^-^

20131208_112659
the famous ayam tangkap

pemakaman Belanda dekat museum tsunamimuseum tsunamigerbang PLTD ApunglengangIMG_3109IMG_3115

Jakarta – Rumah kedua

Posted on Updated on

Kenangan tentang the good old days hidup di Jakarta selalu mendapat tempat istimewa di hati saya. Saya bukan orang asli Jakarta, tidak dibesarkan di kota ini oleh orang tua saya dan Jakarta juga bukan merupakan kota tujuan saya untuk mudik menjelang lebaran. Hanya saja di kota yang identik dengan kesan glamour; kekuasaan; bisnis; mall; sibuk; banjir; pusat hiburan; macet; atau apa saja lah…you name it, saya bertumbuh dan “besar” hingga saya selalu merasa pulang saat menjejakkan kaki di tanahnya.

Dsc04857

Jakarta adalah tempat saya mendapat banyak hal untuk membentuk diri. Di Jakarta lah saya mulai berdiri sendiri mengejar mimpi dan tidak lagi bergantung kepada orang tua. Kerja keras, komitmen, disiplin, dan persahabatan adalah sebagian nilai yang kuat tertanam di dalam diri saya selama hidup di Jakarta. Mau tidak mau untuk bisa survive di kehidupan penuh persaingan di Jakarta, saya harus kerja keras, memegang komitmen dan berdisiplin. Kalau tidak bisa disiplin bangun jam 4 pagi, saya pasti akan semakin menderita dengan kemacetan yang menggila pada jam-jam sibuk pagi hari untuk bisa sampai ke kantor. Kalau saya tidak mau bekerja keras dan komit pada tugas, entah berapa klien yang akan dengan mudahnya berpaling ke perusahaan yang orang-orangnya lebih mau berusaha memberikan hasil kerja yang memuaskan mereka. Sedangkan dari sisi persahabatan, ternyata selain merupakan gudang orang-orang pintar yang ambisius, Jakarta merupakan gudang orang-orang berhati seperti malaikat, seperti teman-teman saya. Walaupun rata-rata pertemanan kami diawali dalam konteks hubungan pekerjaan, namun kami berhasil membangun hubungan personal yang menyenangkan tanpa merusak profesionalisme kami sebagai pekerja. Sementara, circle persahabatan lain yang berhasil saya tembus membawa saya semakin memahami makna bersyukur karena mereka membukakan mata saya betapa indah dunia ini dan kita bisa menikmatinya dengan travelling. Menurut saya, ada banyak orang baik di Jakarta sehingga saya merasa nyaman saat berada disana. Ketika saya sedang ingin menyendiri tanpa teman, Jakarta punya banyak fasilitas yang bisa mengakomodirnya. Saya tidak merasa canggung dan aneh bila saya hanya duduk-duduk di suatu tempat, sendirian. Merupakan hal yang lumrah saat saya dan orang-orang lain menyendiri, bahkan di pusat keramaian. Sepertinya orang-orang punya urusannya masing-masing hingga tidak ada waktu untuk memperhatikan orang lain. Positif atau negatif, tergantung kacamata kita melihatnya. Yang pasti, banyak hal yang bisa dilakukan di Jakarta, entah sendirian atau beramai-ramai, entah serius atau santai, yang semuanya punya keasyikan tersendiri.

Walau selama 12 tahun saya lebih banyak menghabiskan waktu di hari Senin sampai Jumat selama lebih dari 11 jam untuk urusan pekerjaan (itu belum dihitung waktu yang habis di jalan selama jam pergi dan pulang kantor) namun saya masih bisa menikmati Jakarta dan segala daya tariknya di akhir pekan. Saya mungkin tidak akan menyangka bahwa museum ternyata bukan merupakan tempat yang membosankan kalau saja saya tidak bertemu dengan teman-teman pencinta sejarah yang gemar merawat museum sebagai aset bersejarah di Jakarta. Atau mungkin wawasan saya tidak lebih terbuka mengenai tempat-tempat indah di dunia bila saya tidak berkenalan dengan komunitas travel yang saya temui di Jakarta. Jakarta juga merupakan titik awal saya bisa bepergian ke tempat-tempat yang waktu kecil rasanya jauh dari kota kelahiran saya di Salatiga.

Saat jauh dari Jakarta seperti sekarang ini, saat Jakarta harus ditempuh dalam waktu empat jam penerbangan dari Kupang (tempat tinggal saya saat ini), di benak saya Jakarta begitu indah dengan segala komponen didalamnya. Rasanya saya akan bisa berdamai dengan kemacetan yang tiap hari saya temui baik pagi, siang, maupun malam. Sepertinya saya juga masih bisa berkompromi dengan segala macam urusan tenggat waktu yang sering bikin saya sakit kepala. Tampaknya saya juga tidak banyak komplain saat merasakan imbas banjir yang langganan menyambangi kota ini. Kalau jauh memang segalanya tampak lebih indah dan mudah diterima, walau saya yakin pada saat saya menghadapinya lagi sebagai rutinitas, pasti ada sebagian sisi diri saya yang tidak terima dan tetap saja berkomentar negatif mengenai kondisi demikian. Bagi saya Jakarta adalah rumah kedua saya, meski ada duka namun lebih banyak senang disana. Bila akan pulang ke Jakarta, saya menjadi kembali seperti anak kecil yang akan diajak pergi ke taman bermain oleh orang tuanya. Dua malam berturut-turut sebelum pergi, saya pasti akan sulit tidur nyenyak karena terlalu senang dan antusias membayangkan siapa yang akan saya temui dan apa yang akan saya lakukan nanti di Jakarta. Mengemas pakaian di koper menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bangun dini hari untuk bersiap terbang dengan pesawat pertama saya jalani tanpa mengeluh. Transit di Bali / Surabaya saya anggap sebagai jalan-jalan melemaskan kaki yang capek karena sudah duduk sekitar dua jam. Sesampai di Jakarta ketika harus antri taksi serta menghadapi kemacetan di sepanjang tol bandara dan tol dalam kota pun saya justru merasa senang karena bisa sembari melihat-lihat gedung dan bangunan baru yang selalu ada di kota ini. Sambil menikmati kemacetan biasanya saya juga langsung membuat janji untuk bertemu dengan teman-teman. Tentu saja kami harus meluangkan waktu yang lama karena banyak cerita yang kurang seru bila hanya disampaikan lewat telepon atau skype. Belum bertemu mereka saja saya sudah senang, apalagi bila sampai di rumah kakak selalu ada keponakan-keponakan kecil yang dengan polos dan antusias mereka berlari memeluk saya saat masuk rumah sembari berteriak “Welcome home, tante!”, rasanya terbayar sudah rasa pegal selama di atas pesawat.

“Bila hati merasa senang, langkah kakimu terasa ringan, ada pintu persahabatan dan kekeluargaan yang siap terbuka untuk menyambutmu, disanalah kamu bisa pulang.” (arintacerita)

Jkt2

Nggak Salah Liburan ke Salatiga

Posted on Updated on

Asalnya dari mana? Salatiga. Haaaaaa…pasti nilainya tujuh ya, kan salah tiga! Kelakar seperti itu sudah sering saya dengar dari teman-teman setiap kali bertanya dari mana asal saya atau kalau mudik saya pulangnya kemana. Lama-lama saya timpali saja dengan kelakar baru, nilainya sepuluh dong…kan soalnya tiga belas 🙂

Sudah sekitar 15 tahun lebih saya sudah tidak lagi menetap di Salatiga. Saya kangen dengan hawa dingin Salatiga yang membuat saya malas mandi, dengan udara bersih sehingga di rumah tidak perlu dipasang air purifier, dengan kabut tipis yang turun saat jam 10 malam dan masih tersisa di waktu subuh, kangen dengan makanannya yang enak dan murah, tapi tentu saja yang utama pastinya kangen dengan keluarga besar saya disana.

Walau bukan digadang-gadang sebagai kota destinasi wisata, tapi nggak salah lho kalau liburan kesana. Salatiga bisa menjadi salah satu pilihan tempat untuk menghabiskan waktu untuk bersantai. Tapi jangan salahkan saya ya kalau pulang dari Salatiga, berat badan bertambah hehehe…sama seperti saya, kalau habis pulang pasti jadi makmur badan 🙂

Untuk bisa mencapai kota sejuk yang terletak di kaki gunung Merbabu & Telomoyo, dapat ditempuh dengan sekitar 45 menit perjalanan darat dari kota Semarang atau 1 jam dari kota Solo. Apalagi sekarang sudah dibangun jalan tol baru yang menghubungkan Semarang dan Salatiga sehingga aksesnya menjadi semakin mudah.

Berikut alternatif wisata dan kuliner yang bisa dikunjungi di Salatiga dan sekitarnya.

Kemana saja?

1. Rawa Pening

Bila berkendara dari arah Semarang ke Salatiga, sebelum perbatasan masuk kota Salatiga, di sebelah kanan kita bisa melihat panorama gunung, sawah dan rawa. Terbentuknya rawa pening dilatarbelakangi oleh cerita rakyat sehingga menjadikannya legendaris. Disamping keberadaan rawa ini memiliki nilai manfaat besar bagi penduduk sekitar, yaitu sebagai sumber irigasi sawah, pembangkit listrik, serta sebagai lahan bagi petani enceng gondok, rawa ini juga memiliki daya tarik wisata khususnya bagi penyuka wisata memancing, berperahu serta pecinta fotografi.

rawa pening

2. Museum kereta api Ambarawa

Sebetulnya museum ini dulunya merupakan stasiun kereta api komersil, namun sekarang hanya difungsikan sebagai stasiun kereta api wisata disamping fungsinya yang berubah sebagai museum. Disini kita bisa naik kereta wisata yang mesinnya dijalankan dengan tenaga uap dengan sistem sewa satu gerbong. Selain itu dalam stasiun ini terdapat lokomotif uap jaman Belanda yang diparkir. Bangunan museum disini merupakan peninggalan kolonial Belanda sehingga cocok bagi anda yang suka dengan wisata sejarah. Kalau sedang beruntung, anda juga disuguhi tarian daerah yang menghibur.

museumKA

3. Kopeng

Meski bukan masuk dalam wilayah administratif kota Salatiga, namun bila ke Salatiga tak lengkap rasanya bila tidak ke dataran tinggi Kopeng. Seperti layaknya ke Malang, lebih komplit kalau singgah juga ke Batu. Berjarak sekitar 12 km dari kota Salatiga, Kopeng menawarkan wisata alam seperti air mancur, panorama pegunungan, berkuda, serta outbond.

kopeng

4. Muncul

Kolam renang di Muncul ini menjadi istimewa karena berasal dari mata air pegunungan. Biasanya tempat ini ramai pada hari libur. Setelah puas berenang, silahkan mampir di warung pecel keong atau pemancingan ikan air tawar untuk makan siang disana.

5. Tlogo Plantation

Terletak di antara Tuntang – Beringin, km 2 Salatiga, tempat wisata ini menawarkan wisata alami, seperti tour ke perkebunan kopi maupun aktivitas di perkebunan untuk anak-anak. Disini juga terdapat resort dengan suasana asri dan cocok bagi yang ingin dekat dengan alam. Untuk lengkapnya bisa dilihat disini http://www.tlogoplantationresort.co.id/

tlogo

6. Selasar Kartini

Ruang hijau terbuka di sepanjang jalan Kartini Salatiga ini umurnya belum terlalu lama namun sudah menjadi tempat favorit baru bagi warga Salatiga untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman dan keluarga. Dulunya tempat ini merupakan trotoar dan kali kecil yang kemudian dirombak menjadi areal terbuka hijau dan taman. Banyak aktivitas yang dilakukan disini, antara lain berkumpul dengan komunitas hobi tertentu, bersepeda, skate board, roller blade, senam aerobik, ataupun mendampingi anak-anak untuk bermain mobil-mobilan yang digerakkan dengan accu. Bila tidak punya sendiri, bisa menyewa dihitung per jam.

7. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

Pasti bingung kenapa saya merekomendasikan kampus / universitas sebagai destinasi wisata. Kampus ini unik, kalau kita ingin merasakan keragaman Bhineka Tunggal Ika atau Indonesia dari Sabang sampai Merauke, disini tempatnya. Kampusnya teduh karena banyak pohon-pohon rindang disana, disekitarnya juga banyak jajanan yang bisa diicip. Yang paling penting disana kita bisa melihat secara nyata bagaimana interaksi dan keakraban mahasiswa yang datang dari penjuru dalam negeri serta mahasiswa pertukaran dari luar negeri.

8. Memanjakan diri dengan Spa

Banyak pilihan tempat spa di Salatiga. Untuk rekomendasinya, anda bisa coba Kayu Arum Spa, Laras Asri Spa, dan Anggun Spa.

kayuarum

Makan apa?

Nah, ini dia urusan penting yang tidak boleh dilupakan di Salatiga. Berikut daftar yang bisa membuat berat badan anda berbanding lurus dengan kepuasan lidah kita.

1. Soto Esto & Soto Parmoso

Memulai hari di Salatiga baiknya perut diisi dengan yang hangat-hangat untuk mengimbangi udara dingin disana. Sebetulnya banyak pilihan soto, tapi saya merekomendasikan Soto Esto dan Soto Parmoso. Masing-masing soto ini punya kekhasan tersendiri. Soto Esto yang beralamat di jalan Langensuko ini kuahnya sedikit bersantan, cocok dimakan dengan tempe goreng dan suwiran ayam kampung dilumuri kecap. Sedangkan Soto Parmoso yang bertempat di jalan Pungkursari, kuahnya lebih ringan namun tidak kalah sedap citarasanya, cocok dimakan dengan sate kerang. Yum!

2. Gudeg Miroso Hj Sukini

Letaknya di daerah perempatan pasar sapi. Gudeg ini juga cocok dimakan sebagai sarapan berat. Selain bisa memilih ayam dan telur sebagai lauk pendamping gudeg, kita juga bisa memilih koyor sapi yang empuk dan lembut sehingga meleleh di mulut.

koyor

3. Sate Sapi Suruh

Bertempat di pusat kota, Jl Jend Sudirman, warung sate ini sudah buka sejak siang hingga malam hari. Warung ini menjual sate sapi sebagai masterpiecenya, disamping itu ada pula menu sate ayam, mie ayam dan bakso. Tapi saya merekomendasikan sate sapi yang rasanya bikin kangen. Sate sapi ini cita rasanya cenderung manis, disajikan dengan bumbu kacang yang tidak terlalu halus dengan rasa yang gurih manis, lebih enak dimakan dengan ketupat.

4. Ronde Jago

Setelah makan sate Suruh, jangan pergi jauh-jauh dulu dari lokasi. Mampirlah ke ronde Jago yang letaknya berada di belakang deretan ruko sate Suruh. Ronde ini begitu istimewa karena tidak disajikan berupa wedang ronde dan kacang, namun ada tambahan item seperti pacar cina, agar-agar, kolang kaling, kulit jeruk kering maupun buah bligo yang semakin menambah citarasanya. Kalau masih ingin ngemil, disini juga tersedia mie kopyok dan batagor kok.

ronde

5. Bila ingin menikmati udara malam dan suasana malam di kota Salatiga, di sepanjang Jl. Jend. Sudirman juga tersedia warung-warung ronde lesehan dan jagung bakar yang bisa dikunjungi.

6. Bakso Planet & Bakso Babat Taman Sari

Di Salatiga yang hawanya adem memang paling pas isi perut dengan yang hangat-hangat.  Sama seperti soto, bakso ini juga punya keunggulan masing-masing. Bakso Planet yang letaknya di jalan Sukowati memiliki nilai plus karena ada bakso gorengnya yang gurih. Sementara bakso Taman Sari, disamping pilihan variasi baksonya cukup banyak, andalannya adalah babatnya yang lebut dan tidak alot.

7. Bubur Tumpang Koyor

Makanan tradisional khas Salatiga adalah Sambel Tumpang, yaitu tahu yang dimasak dengan tempe yang sudah setengah busuk, santan, cabe, serta bumbu rempah yang membuat cita rasanya unik dan khas. Biasanya sambel tumpang ini dimakan dengan bubur nasi sebagai sarapan. Nah, kita juga bisa mencobanya di bubur tumpang koyor Salatiga Plaza yang buka sejak pagi sampai siang saja.

Menginap dimana?

Di Salatiga tersedia berbagai macam penginapan, mulai dari sistem kamar ala anak kos, guest house, motel, sampai dengan hotel berbintang. Berikut rekomendasinya.

1. Laras Asri Resort & Spa (http://www.larasasriresort.com/)

2. Grand Wahid Hotel (http://www.hotelwahidsalatiga.com/)

3. Le Bringin Hotel (http://www.hotelberingin.com/)

4. Wisma Tamu UKSW (http://wismatamuukswsalatiga.blogspot.com/)

5. Hotel Kayu Arum Resort & Spa (http://www.kayuarum.com/)

6. Griya Tetirah Boutique Hotel  (http://griyatetirah.com/)

7. Pondok Keluarga Osa Maliki (http://guesthouseosamaliki.com)

Liburan Asyik di Bengkulu

Posted on Updated on

pantai panjang1_mini

Pantai Panjang, Bengkulu. FOTO: Arinta

Bengkulu bisa ditempuh dari Jakarta dengan terbang kurang dari satu jam. Ada apa saja di Bengkulu?

Pantai Panjang Putri Gading Cempaka

Ingin punya pengalaman naik gajah menyusuri pantai, melintasi gundukan pasir putih serta melewati kumpulan pohon pinus yang rimbun? Di pantai sepanjang 7 km ini lah tempatnya. Orang Bengkulu biasa menyebut pantai yang memiliki ombak yang relatif tenang ini dengan pantai Panjang. Selain bisa naik gajah, kita juga bisa berenang, atau hanya bersantai dengan menikmati air kelapa muda yang banyak dijajakan oleh warga sekitar.

Danau Dendam Tak Sudah

Dari namanya saja sudah bikin orang penasaran untuk datang ke tempat ini. Ada beberapa versi mengenai sejarah penamaannya, mulai dari kisah tragis pasangan kekasih sampai dengan pembangunan dam pada masa Belanda yang pengerjaannya tidak pernah selesai. Gara-gara itu, warga sekitar menamakannya dam tak sudah, lalu sengaja diplesetkan menjadi dendam.

Danau ini berperan penting bagi ketersediaan air bersih di kota Bengkulu sehingga dijadikan sebagai kawasan cagar alam. Dikelilingi perbukitan dan ekosistem flora dan fauna yang terjaga, danau ini sangat asri dan cocok bagi pecinta ketenangan.

Benteng Marlborough. FOTO: Arinta

Benteng Marlborough. FOTO: Arinta

Benteng Marlborough

Bagi penyuka wisata sejarah jangan melewatkan benteng peninggalan Inggris di Bengkulu ini. Benteng Marlborough berdiri kokoh di atas perbukitan dan menghadap kota Bengkulu. Dari benteng ini, kita juga bisa melemparkan pandangan ke Samudera Hindia yang terletak di belakangnya.

Rumah pengasingan Bung Karno. FOTO: Arinta

Rumah pengasingan Bung Karno. FOTO: Arinta

Rumah pengasingan Bung Karno

Masih seputar wisata sejarah, di Bengkulu terdapat rumah yang pernah ditempati oleh Presiden RI pertama Soekarno. Bung Karno tinggal di Bengkulu sesuai periode pengasingan di Ende, Flores. Di sini masih terdapat barang-barang yang dulu dipakai oleh Bung Karno. Termasuk koleksi buku yang mayoritas berbahasa Belanda, serta sepeda kumbang yang dipakai selama Bung Karno berada di Bengkulu.

Ritual Tabot. FOTO: Arinta

Festival Tabot. FOTO: Arinta

Festival Tabot

Bila kita ke Bengkulu pada tanggal 1-10 Muharram (kalender Islam), maka kita dapat menyaksikan Festival Tabot yang rutin digelar tahunan. Festival ini merupakan perayaan untuk mengenang meninggalnya Amir Hussain, cucu nabi Muhammad SAW di padang Karbala. Pada festival ini dilakukan pembuatan tabot (kotak kayu/peti), penyediaan sesaji, atraksi bendera, kirab dan atraksi seni budaya.

Bunga bangkai yang hanya mekar di waktu-waktu tertentu. FOTO: Arinta

Bunga bangkai yang hanya mekar di waktu-waktu tertentu. FOTO: Arinta

Penangkaran Bunga Bangkai (Amorphophallus titanium)

Kalau saatnya tepat, kamu bisa menonton bunga bangkai  mekar di penangkaran yang sudah dibuka untuk umum. Letaknya di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang. Oleh penduduk lokal bunga ini disebut bunga kibut. Tingginya bisa mencapai 200 meter. Karena populasinya yang langka, bunga ini dilindungi.

(published in http://www.wego.co.id)

Solo sehari : gudeg ceker, batik, keraton, pasar antik

Posted on Updated on

Kampung Batik Laweyan di pagi hari. FOTO: Arinta

Kampung Batik Laweyan di pagi hari. FOTO: Arinta

Cuma punya waktu sehari di Solo, enggak usah khawatir bakal mati gaya. Banyaaaak yang bisa dilakukan di kota yang bersemboyan “the spirit of Java” ini. Mulai dari melihat proses pembuatan dan belanja batik, lebih tahu mengenai budaya di keraton,  serta tentunya menikmati kuliner khas yang enak dan… enak banget.

Sarapan dini hari

Untuk memulai hari, ada banyak pilihan menu sarapan di Solo. Antara lain nasi liwet, soto, sate, gudeg ceker juga timlo Solo. Disajikannya pun bervariasi. Kita bisa makan di warung otentik ataupun kelas restoran. Konon, yang paling legendaris di Solo ialah warung gudeg ceker Margoyudan yang buka sekitar pukul 2 dini hari.

Menu paling hits-nya ya gudeg yang disajikan dengan ceker ayam. Empuk banget! Sampai-sampai kita bisa melepaskan daging dari tulangnya hanya dengan mulut saja. Hm.. lupakan dulu soal diet! 

batik putra laweyan solo

Traveler bisa melihat proses awal pembuatan batik di Batik Putra Laweyan, Solo. FOTO: Arinta

Kampung Batik Laweyan

Bagi yang ingin menikmati suasana pagi dan kerahaman warga Solo, coba deh mengarah ke Kampung Laweyan yang merupakan kawasan sentra industri batik bersejarah di Solo. Saat pagi masih lengang, biasanya belum banyak toko batik rumahan yang dibuka. Kamu akan bertemu dengan sejumlah warga lokal yang menyapa ramah, “Monggo Mbak, monggo Mas“. Bahkan, bisa saja kamu diundang masuk oleh warga setempat, berbincang sambil minum teh hangat.

Selain bisa belanja, Kampung Laweyan juga merupakan tempat yang tepat untuk melihat proses pembuatan batik dari awal sampai siap dipasarkan. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi ialah Batik Putra Laweyan. Dilihat dari luar, tempat ini cukup asri. Ada teras yang teduh, lengkap dengan bangku kayu dan meja. Di atas meja, tersedia minuman tradisional botolan, seperti beras kencur dan temu lawak. Sementara di halaman samping, terdapat kafe bergaya Jawa, lengkap dengan fasilitas wifi bagi pengunjung.

Masuk ke ruang utama, terdapat ruang pamer busana dan kain batik khas Solo, yang biasanya menggunakan warna sogan: kombinasi coklat muda, coklat tua, coklat kekuningan, coklat kehitaman dan coklat kemerahan. Kualitas batik di tempat ini, tak perlu diragukan lagi. Untuk harga, memang bervariasi.

Komunitas ibu-ibu pembatik di ruang produksi. FOTO: Arinta

Komunitas ibu-ibu pembatik di ruang produksi. FOTO: Arinta

Di halaman belakang, terdapat ruang produksi. Suasananya cukup hening. Beberapa kelompok ibu-ibu pengrajin batik terlihat tekun duduk sambil menggerakkan canting mengikuti pola kain. Semua terlihat fokus pada kain yang ada di hadapan mereka. Tidak ada yang ngobrol, sebab membatik memang butuh fokus tinggi.

Di ruang sebelahnya, ada dua orang bapak-bapak sedang mengerjakan batik cap. Pekerjaan yang satu ini membutuhkan stamina tinggi dan harus tahan panas. Sebab, saat membuat batik cap, posisi tubuh harus berdiri. Alat cap terbuat dari lempengan tembaga yang kemudian dicelupkan ke dalam malam panas lalu dicap ke bentangan kain di atas meja.

Pada ujung belakang ruang produksi itu terdapat bak berisi air panas untuk tempat melepas malam dari kain (dilorot) dan bak lainnya untuk pewarnaan.

Keraton Kasunanan. FOTO: Arinta

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. FOTO: Arinta

Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat

Berbekal tiket tanda masuk keraton, kita akan ditemani seorang abdi dalem untuk diantar berkeliling mengitari komplek keraton. Sebagian ruangannya saat ini difungsikan sebagai museum. Tur ini dimulai dari alun-alun Lor yang biasa digunakan untuk kegiatan umum masyarakat dan berbagai acara resmi Keraton Surakarta. Dari sana, kita diajak masuk ke suatu paviliun terbuka, dinamai pagelaran. Di tempat ini lah, pihak keraton menyambut tamu yang datang.

Tidak jauh dari situ ada pula Sitihinggil yang fungsinya sama dengan pagelaran namun dilengkapi dengan panggung di atasnya. Lebih masuk lagi ke dalam, sampailah di kompleks Kemandungan Lor. Dari sini kita bisa melihat suatu menara yang bernama Panggung Songgo Buwono yang letaknya di kompleks Sri Manganti. Di masing-masing tempat tersebut terdapat bangsal terbuka dengan fungsi-fungsi khusus sesuai dengan tradisi keraton.

Koleksi kereta kencana bisa dilihat di keraton. FOTO: Arinta

Bagian-bagian ruang di keraton. FOTO: Arinta

Kompleks selanjutnya adalah Kedhaton yang saat ini difungsikan sebagai museum untuk menyimpan koleksi keraton, salah satunya kereta kencana. Sebelum mengakhiri kunjungan keraton, kita juga bisa minum dan mencuci muka dengan air suci disana.

Selepas keluar dari keraton, kita bisa berjalan atau naik becak ke arah alun-alun selatan untuk melihat kawanan kerbau albino yang biasa disebut kebo bule Kyai Slamet. Konon kerbau ini adalah hewan kesayangan keraton dan dianggap pusaka keramat oleh masyarakat Solo.

Tips mengunjungi keraton:

  • Jaga kebersihan dan jangan buat kegaduhan
  • Berpakaian sopan dan melepas kaca mata hitam saat berada di areal keraton. 

Jam operasional:

  • Senin- Kamis: 08.30 – 14.00 WIB 
  • Sabtu- Minggu: 08.30 – 13.00 WIB
Pasar antik yang memancing hasrat belanja. FOTO: Arinta

Pasar antik yang memancing hasrat belanja. FOTO: Arinta

Pasar Antik Windudjenar (Triwindu)

Pasar ini merupakan salah satu pasar barang antik yang populer di Pulau Jawa. Penggemar dan kolektor barang antik pasti betah berlama-lama disini. Mulai dari wayang, patung kayu, patung logam, miniatur gamelan, kain batik, lukisan, gramofon tua, sepeda onthel, buku, sampai setrika arang semua ada disini.Bahkan ditawarkan juga beberapa benda yang diklaim sebagai fosil makhluk purba dari Sangiran yang memang letaknya tidak jauh dari Solo.

Pasar antik ini menarik, kok. Walaupun kamu tidak tergolong kolektor barang antik, bisa tergoda juga belanja di sini. Kalau tertarik, silahkan saja menawar. Sah-sah saja kok!

Makam malam dan bergaul di Galabo. FOTO: Arinta

Makam malam dan bergaul di Galabo. FOTO: Arinta

Makan malam di Galabo

Malam di Solo kurang lengkap bila tidak makan (dan gaul) di Galabo. Galabo merupakan singkatan dari Gladak Langen Bogan, pusat wisata kuliner di kota Solo. Bila siang kawasan sepanjang jalan utama depan Pusat Grosir Solo dan Beteng Trade Center ini adalah jalan raya. Tapi di malam hari, kawasan ini dipenuhi warung-warung penjual tengkleng, sate kambing, serabi, wedang ronde, wedang dongo, dawet, dan kuliner lain khas Solo.

Bila malam libur tempat ini semakin ramai oleh pengunjung, baik warga Solo maupun wisatawan. Nah berhubung pesanan selat solo dan serabi saya sudah datang, sudah dulu ya ceritanya. Yuk ke Solo!

(published in http://www.wego.co.id)